Bandar Lampung – Lonjakan harga emas yang terjadi sepanjang April 2026 menjadi perhatian berbagai kalangan, termasuk akademisi. Dosen Akuntansi Universitas Teknokrat Indonesia, Shiwi Angelica Cindiyasari Sihono, S.Akun., MBA., menilai kenaikan harga emas saat ini merupakan refleksi dari meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang mendorong investor mencari instrumen investasi aman.
Harga emas batangan Antam diketahui mencapai sekitar Rp2.893.000 per gram pada pertengahan April 2026. Angka tersebut mengalami peningkatan cukup tajam dibandingkan periode sebelumnya dan menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap investasi emas.
Menurut Shiwi, kondisi global seperti ketegangan geopolitik, ketidakpastian kebijakan moneter, hingga konflik di kawasan strategis dunia menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga emas internasional. Situasi tersebut membuat investor cenderung memindahkan asetnya ke instrumen yang dianggap lebih stabil.
“Emas sejak lama dikenal sebagai safe haven atau aset lindung nilai ketika kondisi ekonomi dunia tidak menentu,” ungkap Shiwi.
Ia menjelaskan bahwa penguatan harga emas dunia juga diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Pada April 2026, rupiah tercatat sempat berada di level Rp17.146 per dolar AS, sehingga berdampak langsung terhadap kenaikan harga emas di pasar domestik.
Shiwi menilai fenomena meningkatnya pembelian emas oleh masyarakat menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi dan menurunnya kepercayaan pada instrumen investasi lain seperti saham maupun obligasi. Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tetap rasional dalam mengambil keputusan investasi. Kenaikan harga emas yang sangat cepat dapat memicu perilaku fear of missing out (FOMO), di mana seseorang membeli aset hanya karena mengikuti tren tanpa mempertimbangkan risiko yang ada.
“Investasi tetap membutuhkan perhitungan yang matang. Harga emas juga dapat mengalami koreksi sewaktu-waktu apabila kondisi global mulai stabil,” jelasnya.
Ia menyarankan masyarakat untuk meningkatkan literasi keuangan agar mampu memahami keuntungan dan risiko setiap instrumen investasi. Selain itu, strategi diversifikasi portofolio dinilai penting untuk meminimalkan risiko investasi dalam jangka panjang.
Shiwi juga berharap pemerintah dan otoritas moneter dapat terus menjaga stabilitas ekonomi nasional, termasuk memperkuat nilai tukar rupiah dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan domestik.
Melalui pandangan akademis tersebut, Universitas Teknokrat Indonesia menunjukkan komitmennya dalam memberikan edukasi dan kontribusi pemikiran terhadap isu ekonomi global yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
Kajian mengenai investasi emas dan literasi keuangan ini mendukung implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya: